Ketika mendengar kata "Joglo," pikiran kita sering kali tertuju pada Keraton Yogyakarta atau Surakarta. Namun, Jawa Timur memiliki varian Joglo tersendiri yang tak kalah memukau. Sering direpresentasikan oleh Joglo Situbondo, rumah adat ini bukan sekadar tempat berteduh, melainkan simbol status sosial, keharmonisan dengan alam, dan filosofi hidup masyarakat Jawa Timur yang lugas namun luhur.
Ciri Khas Arsitektur: Kokoh dan Sederhana
Meskipun
berbagi akar budaya yang sama dengan Jawa Tengah, Joglo Jawa Timur memiliki
karakteristik visual yang membedakannya. Arsitekturnya mencerminkan karakter
masyarakat Jawa Timur yang cenderung lebih terbuka dan egaliter.
1. Struktur Atap yang Menjulang
Bagian
paling ikonik adalah atapnya yang berbentuk limas terpancung atau trapesium.
Tajug:
Bagian tengah atap yang menjulang tinggi menyerupai gunung. Dalam filosofi
Jawa, gunung dianggap sebagai tempat yang sakral.
Kemiringan:
Atap Joglo Jawa Timur biasanya memiliki kemiringan yang cukup curam, berfungi
memperlancar aliran air hujan tropis dan sirkulasi udara.
2. Dominasi Kayu Jati (Teak Wood)
Jawa Timur,
khususnya daerah seperti Bojonegoro dan Tuban, dikenal sebagai penghasil kayu
jati terbaik di dunia.
Rumah Joglo
di sini hampir seluruhnya dibangun menggunakan Kayu Jati tua yang sangat keras
dan awet.
Penggunaan
kayu ini tidak hanya menjamin kekokohan bangunan hingga ratusan tahun, tetapi
juga dipercaya membawa kewibawaan bagi penghuninya.
3. Ragam Hias yang Minimalis
Berbeda
dengan Joglo Jawa Tengah yang penuh dengan ukiran rumit dan detail, Joglo Jawa
Timur (khususnya gaya Situbondo) cenderung lebih minimalis. Ukiran tetap ada,
biasanya pada tiang penyangga (saka) atau pintu, namun motifnya lebih sederhana
dan tegas, mencerminkan estetika masyarakat pesisir.
Tata Ruang dan Fungsinya
Rumah Joglo
bukan sekadar satu ruangan besar, melainkan kompleks bangunan yang dibagi
berdasarkan hierarki privasi dan fungsi sosial.
A. Pendopo (Area Publik)
Terletak di
bagian paling depan, bangunan ini tidak memiliki dinding (terbuka).
Fungsi:
Tempat menerima tamu, mengadakan musyawarah, atau menggelar pertunjukan wayang.
Filosofi:
Keterbukaan ini menyimbolkan keramahan pemilik rumah yang siap menerima siapa
saja tanpa menyembunyikan sesuatu.
B. Pringgitan (Area Transisi)
Lorong
penghubung antara Pendopo dan rumah bagian dalam.
Fungsi:
Sering digunakan sebagai tempat pertunjukan wayang kulit (ringgit) pada acara
ruwatan atau hajatan.
Simbol:
Batas antara dunia luar (publik) dan dunia dalam (keluarga).
C. Omah Njero / Dalem (Area Privat)
Ini adalah
inti dari rumah, tempat keluarga beristirahat dan beraktivitas. Di dalam Omah
Njero, terdapat pembagian ruang yang sangat sakral yang disebut Sentong:
Ruangan,Fungsi & Makna
Sentong Kiwo
(Kiri), Biasanya gudang makanan atau tempat menyimpan alat pertanian
(padi/beras).
Sentong
Tengen (Kanan),Kamar tidur untuk penghuni rumah atau tamu kerabat dekat.
Sentong
Tengah,Ruang paling sakral. Sering dibiarkan kosong atau diberi sesaji/lampu.
Dipercaya sebagai tempat bersemayam Dewi Sri (Dewi Kesuburan/Padi).
Filosofi Pintu Utama (Pintu Panil)
Salah satu keunikan spesifik Joglo Jawa Timur (Situbondo) adalah pintu utamanya. Pintu ini biasanya terletak di tengah ruangan dan dikenal dengan nama Pintu Panil.
Catatan Menarik: Pintu ini memiliki makna filosofis yang dalam. Ukuran dan posisinya dirancang agar tamu yang masuk secara tidak sadar harus sedikit menunduk, menyimbolkan rasa hormat kepada tuan rumah dan kerendahan hati.
Keberadaan Saat Ini
Di era
modern, keberadaan rumah Joglo asli di Jawa Timur semakin langka karena biaya
perawatan yang tinggi dan kelangkaan kayu jati tua. Namun, arsitektur ini kini
sering diadaptasi untuk bangunan pendopo pemerintahan, hotel butik, atau
restoran yang ingin menonjolkan nuansa etnik dan kemewahan budaya masa lalu.
Melestarikan
konsep Joglo bukan berarti harus membangun rumah kayu kuno, melainkan memahami
prinsipnya: pondasi yang kuat, sirkulasi udara yang baik, dan ruang yang ramah
bagi komunitas.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar