Stadhuis Batavia: Saksi Bisu Tiga Abad Pasang Surut Jakarta


 

Jika Anda berjalan-jalan ke kawasan Kota Tua Jakarta, mata Anda pasti akan tertuju pada sebuah gedung megah berwarna putih dengan gaya arsitektur Eropa klasik yang mendominasi Taman Fatahillah. Gedung itu adalah Stadhuis Batavia, sebuah bangunan yang menyimpan ribuan cerita, mulai dari kemegahan pesta para Gubernur Jenderal hingga jeritan para tahanan di penjara bawah tanah.


Berikut adalah perjalanan panjang gedung yang kini menjadi ikon sejarah Jakarta.

1. Sejarah Pembangunan: Balai Kota Ketiga

Gedung yang berdiri saat ini sebenarnya adalah Balai Kota (Stadhuis) ketiga yang dibangun di Batavia. Dua balai kota sebelumnya dinilai kurang representatif dan mulai rusak seiring berkembangnya kota Batavia.

Pembangunan: Dimulai pada tahun 1707 di bawah perintah Gubernur Jenderal Joan van Hoorn.

Peresmian: Gedung ini selesai dan diresmikan pada tanggal 10 Juli 1710 oleh Gubernur Jenderal Abraham van Riebeeck.

Arsitek: Dirancang oleh W.J. van de Velde dengan gaya arsitektur Barok Klasik abad ke-17. Konon, desainnya meniru Paleis op de Dam (Istana di Dam) yang ada di Amsterdam, namun dengan skala yang lebih sederhana.

2. Bukan Sekadar Kantor Pemerintahan

Selama era VOC hingga Hindia Belanda, Stadhuis Batavia memiliki fungsi yang sangat kompleks. Ia bukan hanya kantor Walikota, tetapi pusat syaraf kota tersebut.

Pusat Administrasi: Tempat Gubernur Jenderal dan Dewan Hindia berkantor dan mengadakan pertemuan penting.

Dewan Pengadilan (Raad van Justitie): Gedung ini berfungsi sebagai pengadilan tertinggi di Batavia. Segala keputusan hukum, termasuk vonis mati, diputuskan di sini.


Catatan Sipil: Di sinilah warga Batavia zaman dulu mendaftarkan pernikahan atau urusan administrasi lainnya.

Gereja: Sebelum Batavia memiliki banyak gereja, ruang-ruang di gedung ini kadang digunakan untuk ibadah hari Minggu.

3. Sisi Kelam: Penjara dan Eksekusi

Di balik kemegahan arsitekturnya, Stadhuis menyimpan sejarah kelam. Halaman depan gedung ini (sekarang Taman Fatahillah) dulunya adalah tempat eksekusi publik. Ribuan orang menyaksikan hukuman gantung atau pancung di sana sebagai "hiburan" sekaligus peringatan dari VOC.

Di bagian bawah gedung terdapat penjara bawah tanah yang sempit, lembap, dan gelap.

Penjara Wanita & Pria: Terdapat sel-sel terpisah yang memprihatinkan. Saat air pasang, lantai penjara sering tergenang air, menyiksa para tahanan.

Tokoh Sejarah: Pahlawan nasional Pangeran Diponegoro pernah ditahan sementara di salah satu ruangan di gedung ini pada tahun 1830 sebelum diasingkan ke Manado. Tokoh pemberontak Untung Suropati dan pejuang kemerdekaan Cut Nyak Dien juga memiliki jejak sejarah yang bersinggungan dengan sistem hukum kolonial di masa itu.

Pieter Erberveld: Salah satu eksekusi paling sadis adalah hukuman pecah kulit (ditarik empat kuda) terhadap Pieter Erberveld yang dituduh berkhianat pada tahun 1722.

4. Transisi Menjadi Museum

Setelah Indonesia merdeka, gedung ini sempat berganti fungsi beberapa kali, mulai dari kantor Pemerintah Provinsi Jawa Barat hingga kantor Kodim 0503 Jakarta Barat.

Melihat nilai sejarahnya yang tinggi, Gubernur DKI Jakarta saat itu, Ali Sadikin, melakukan pemugaran besar-besaran. Pada tanggal 30 Maret 1974, gedung ini resmi dibuka sebagai Museum Sejarah Jakarta.

5. Apa yang Ada di Sana Sekarang?

Saat ini, Stadhuis Batavia berfungsi sebagai museum yang menampilkan sejarah Jakarta dari masa prasejarah hingga masa kini.

Replika Kamar Pangeran Diponegoro: Anda bisa melihat ruangan tempat Sang Pangeran ditahan.

Meriam Si Jagur: Meriam ikonik dengan simbol tangan "fico" yang dipercaya memiliki kekuatan mistis (kesuburan).

Pedang Keadilan: Pedang eksekusi yang dulu digunakan untuk memenggal kepala terpidana mati.

Mebel Antik: Koleksi lemari, kursi, dan meja dari abad ke-17 hingga 19 yang menunjukkan kemewahan gaya hidup para petinggi VOC (Gaya Betawi-Rococo).

Gedung bekas Stadhuis Batavia adalah mesin waktu yang nyata. Dinding-dinding tebalnya telah merekam jejak kolonialisme, penderitaan rakyat, hingga lahirnya kota Jakarta modern. Mengunjunginya bukan hanya sekadar wisata foto, melainkan sebuah perjalanan untuk merenungi sejarah panjang bangsa ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar